EMPAT LAWANG –Literaturtv.id.. Keluarga Derli Romadon harus mendekam di balik jeruji besi akibat laporan yang dilayangkan oleh Endang dan Wito atas dugaan pencurian kelapa sawit di area PT. Sarimas, Desa Pancurmas, Kem 3 (Tiga), Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
Ibu dari korban, Lisnawati, meminta agar pihak pelapor bertanggung jawab penuh atas laporan yang dibuatnya. Pasalnya, hingga saat ini tuduhan pencurian kelapa sawit yang menjerat anaknya belum terbukti secara nyata.
DERLI KEJANG-KEJANG DAN MUNTAH DI DALAM SEL, DIEVAKUASI DARURAT
Sementara itu, informasi yang diterima tim media pada hari ini, Rabu (08/04/2026), menyebutkan bahwa keponakannya yang ditahan di Polres Empat Lawang mengalami pingsan, kejang-kejang, dan muntah-muntah hebat tepat di dalam sel tahanan.
Tim media yang bergegas menuju lokasi bertemu dengan pihak keluarga di IGD Rumah Sakit Empat Lawang. Yusni, selaku paman dari Derli, mengungkapkan kondisi terbaru keponakannya.
“Kami dapat info bahwa Derli kejang-kejang dan muntah-muntah hebat di dalam sel. Kami meminta agar kondisi ini ditangani dengan serius,” ungkap Yusni dengan nada prihatin.
Yusni juga menegaskan bahwa pihak keluarga akan segera membuat laporan balik terkait tuduhan pencurian sawit yang menjerat Derli oleh Endang dan Wito, sesuai dengan nomor laporan polisi LP/A/4/II/2026/SPKT-Satreskrim/Polres Empat Lawang/Polda Sumsel, tertanggal 23 Februari 2026.
KASAT TAHTI: KAMI BAWA KE RS UNTUK DIOBATI
Saat dikonfirmasi di lokasi Rumah Sakit Empat Lawang, Kasat Tahti, Rahmat Lutfi, S.SH., M.H, membenarkan informasi tersebut.
“Informasi diterima dari anggota piket pada pukul 08:58 WIB tanggal 08 April 2026 bahwa tahanan sakit. Kami langsung evakuasi dan bawa ke rumah sakit untuk segera diobati,” ucap Lutfi.
Lutfi menjelaskan kondisi Derli saat dibawa terlihat lemas, mata tertutup dan tidak bergerak, namun nyatanya saat di rumah sakit mata masih terbuka dan sempat bisa mengobrol.
“Benarnya bahwa tersangka lemas, kalau pingsan itu kan mata tertutup, tergeletak tidak bergerak, tapi itu nyatanya mata masih melek dan masih sempat ngobrol di Rumah Sakit,” sambungnya. Ia juga mengakui bahwa hingga saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti diagnosa penyakit yang diderita tersangka.
WAKAPOLRES: SILAKAN TANYA DOKTER TERKAIT PENYAKITNYA
Belum mendapatkan keterangan medis yang jelas, tim media kemudian mencoba mengkonfirmasi langsung kepada Wakapolres Empat Lawang, Kompol Dr. Abdul Rahman, S.H., M.H, yang ditemui di halaman kantor polres.
“Ya, karena dia sakit demam, kami bawa ke rumah sakit untuk penanganan. Terkait penyakitnya silakan tanya dengan dokter yang menangani langsung di rumah sakit,” tegas Waka Polres.
DERLI BUKA SUARA DARI RUANG ICU: SAYA DIPUKULI DAN MATA DILAKBAN
Saat dikonfirmasi secara langsung di ruang ICU Rumah Sakit Umum Empat Lawang, Derli yang masih terlihat lemah mengaku tidak ingat apa-apa saat dirinya pingsan di dalam sel. Namun, ia menceritakan kronologi pilu saat penangkapan dirinya pada tanggal 23 Februari 2026 lalu.
Derli mengaku, dirinya ditangkap saat sedang menjual sawit milik PUAT (teman dari bapaknya) yang selama ini ia rawat atau pelihara.
“Saat penangkapan, saya ditangkap saat jual sawit milik PUAT teman dari bapak saya karena saya yang memelihara sawit tersebut. Saat itu anggota Polres Empat Lawang atas nama Lawe memanggil saya dari pinggir jalan raya, akhirnya saya datangi. Saat dekat dengan mobilnya, saya ditangkap dan dianggap kasus besar,” beber Derli.
“Lalu, setiba di jalan menuju kantor polisi, saya dipukuli oleh anggota bernama Lawe dan temannya yang saya tidak ingat namanya. Mereka memukuli dan mencengkeram saya, dipukul bagian samping mata serta dada. Lalu mata saya dilakban rapat-rapat,” tambahnya dengan terbata-bata.
KELUARGA TUNTUT KEADILAN: NO JUSTICE NO PEACE
Perlu diketahui, semua informasi di atas didasarkan pada bukti foto yang dimiliki oleh keluarga Derli.
Keluarga Derli menyampaikan harapannya agar mendapatkan keadilan yang sebenarnya. Slogan “No Justice, No Peace” yang berarti “Tidak Ada Keadilan, Maka Tidak Akan Ada Kedamaian” menjadi tuntutan utama mereka dalam kasus ini.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi Derli masih dalam pengawasan medis intensif dan pihak keluarga menunggu kejelasan hukum serta kesehatan kerabat mereka.
(Laporan: Redaksi)









