Empat Lawang ,Sumsel,. Literaturtv.id..sabtu,18 April 2026– Gabungan aktivis dan awak media siap melaporkan pengelolaan Dana Desa di Desa Rantau Dodor, Kecamatan Pendopo Barat, periode 2023 hingga 2025. Langkah ini diambil setelah tim menemukan banyak indikasi kecurangan dan dugaan kegiatan fiktif yang merugikan keuangan negara.
Koordinator tim, Cenci Riestan, menjelaskan bahwa berdasarkan penelusuran dokumen Surat Pertanggungjawaban (SPJ), banyak kegiatan yang tertulis selesai, namun di lapangan tidak ada realisasinya sama sekali.
“Kami menemukan banyak kejanggalan. Di dokumen tertulis ada kegiatan tebas bayang, program ketahan pangan tanaman kates Kalifornia, hingga budidaya ikan lele, tapi faktanya tidak ada di lapangan. Dugaan sementara, anggaran dialihkan untuk kepentingan pribadi. Bahkan beredar info ikan lele justru ada di kolam rumah pribadi Kades,” ungkap Cenci.
Kecurigaan makin menguat karena Kepala Desa tersebut sangat sulit ditemui. Pagar rumah selalu terkunci gembok besar yang terlihat dari kejauhan, seolah sengaja menghindar. Hal serupa juga ditemukan dalam anggaran tahun 2025 yang masih menyisakan banyak ketidakwajaran.
🗣️ Cenci Soroti Dugaan Kerjasama dengan Pendamping
Lebih jauh, Cenci menilai adanya dugaan kerjasama atau persekongkolan antara Kepala Desa dengan Pendamping Lokal Desa maupun Pendamping Kecamatan.
“Kami menilai ada kejanggalan juga dari sisi pendamping. Padahal tugas mereka jelas diatur dalam undang-undang dan peraturan, sama halnya sebagai pengawas. Tapi kok mereka diam saja membiarkan hal ini terjadi?” tegasnya.
Merespons hal ini, tim tidak hanya akan meminta audit ke BPK, tetapi juga akan membawa kasus ini ke ranah hukum.
“Setelah proses audit, kami akan melaporkan seluruh temuan ini ke Kejaksaan Negeri untuk ditindaklanjuti. Kami juga meminta agar oknum pendamping tersebut mau menerima konsekuensi hukum sesuai dengan apa yang mereka perbuat,” tegas Cenci.
😔 Warga: Cuma Bisa Menonton, Jalan Rusak Susah Dilewati
Sementara itu, kondisi ini membuat prihatin warga yang tinggal di wilayah pertanian seperti Talang Air Berau. Mereka mengaku hanya bisa melihat anggaran dana desa diluncurkan, namun tidak pernah merasakan manfaat pembangunannya.
“Dulu kami warga sampai menyumbang iuran untuk perbaiki jalan ini supaya bisa dilalui. Tapi sekarang, akses jalan untuk mengangkut hasil pertanian ke pasar justru makin rusak dan susah dilewati. Akibatnya, hasil kebun kami sering terhambat dan rugi sendiri,” keluh salah satu warga dengan nada kecewa.
Masyarakat berharap kasus ini segera disidik dan siapapun yang terbukti bersalah, baik dari unsur pemerintahan desa maupun pendamping, harus diproses sesuai hukum yang berlaku.
Redaksi









